Kekuatan TNI AL Banyak Menggunakan Produk Dalam Negeri

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Jakarta – Pembangunan kekuatan TNI AL, telah dilakukan pemerintah
dengan mendukung kebutuhan alat utama sistem persenjataan (Alutsista)
dalam rangka mencapai minimum essential forces (MEF) atau kekuatan pokok minimum melalui industri pertahanan nasional.

Kita pun patut berbangga, kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal),
Laksamana TNI Soeparno sebab pemenuhan kebutuhan alutsista TNI AL saat
ini telah banyak menggunakan beberapa produk hasil industri pertahanan
nasional dalam upaya mewujudkan kemandirian nasional.

Namun
demikian, untuk mendukung terwujudnya industri pertahanan yang
berkemampuan maju, mandiri dan berdaya saing, menurut Kasal, dibutuhkan
kerja sama, kebijakan pemerintah dan keterpaduan semua stakeholder
termasuk perangkat regulasinya dalam bentuk perundang-undangan tentang
industri pertahanan nasional.

“Pertumbuhan dan perkembangan
industri nasional erat kaitannya dengan kondisi perekonomian suatu
negara, demikian juga sebaliknya,” kata Laksamana TNI Soeparno saat
menjadi pembicara kunci pada Seminar Nasional TNI Angkatan Laut di Balai
Samudra, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu

Soeparno juga
menjelaskan hasil kajian Badan Pengembangan Lingkungan Strategis yang
menyebutkan bahwa kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadi
pergeseran paradigma kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu pula
dibutuhkan upaya pertahanan negara yang efektif agar mampu menjaga dan
melindungi keutuhan wilayah NKRI dari ancaman dalam dan luar negeri.

Menurut Laksamana Soeparno, ada tiga model perkembangan industri pertahanan.

● Pertama adalah Autarky model.
Model ini diterapkan oleh negara yang memiliki ambisi untuk mendapatkan
kemandirian pertahanan dan ini adalah model ideal industri pertahanan
nasional. “Autarky model hanya bisa dicapai oleh negara-negara yang
ditopang oleh postur militer besar,” katanya.

● Kedua adalah Niche-production model.
Model ini diterapkan oleh negara yang berupaya mengurangi
ketergantungan luar negeri. Oleh karena itu, negara memiliki komitmen
untuk investasi ke sektor industri pertahanan dengan berupaya tranfer of
technology dari negara produsen.

● Ketiga adalah Global supply chain.
Model ini cenderung dilakukan oleh negara-negara yang telah memiliki
basis militer mapan namun tidak memiliki akses pasar senjata
internasional.

Artikel serupa yang mungkin Anda cari

Leave a Reply

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE