Kemahiran Berbahasa dan Menulis

Judul Artikel : Guru, Pengajaran Bahasa dan Menulis
Author : Heddy

ABSTRAKSI
Artikel ini saya dedikasikan untuk para guru yang telah berjasa dalam pengembangan pendidikan, apabila ada kesalahan-kesalahan yang dianggap salah dan kurang berkenan di hati para guru mohon dimaafkan, namun saya tekankan bahwa "Menyampaikan Bukanlah Membenci". Sebelum Anda membaca artikel ini ada baiknya membaca artikel saya sebelumnya yaitu tentang Pentingnya Ketepatan Penggunaan Bahasa ,dan Pengabaian Pelajaran Bahasa,  serta Pengertian Hakikat Menulis

Dunia pendidikan sedang diguncang oleh berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, serta ditantang untuk dapat menjawab berbagai permasalahan lokal dan perubahan global yang terjadi begitu pesat. Perubahan dan permasalahan tersebut mencangkup social change, turbulence, complexity, and chaos; seperti pasar bebas (free trade) tenaga kerja bebas (free labour), perkembangan masyarakat informasi, serta perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi, seni, dan budaya yang sangat dahsyat. Bersamaan dengan itu, bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada fenomena yang sangat dramatis, yakni rendahnya daya saing sebagai indikator bahwa pendidikan belum mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.

Peranan pendidikan dalam konteks pembangunan nasional, muncul dua paradigma yang menjadi kiblat pendidikan, yaitu paradigma fungsional dan paradigma sosialisasi. Paradigma fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan dikarenakan masyarakat tidak mempunyai cukup penduduk yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap modern. Menurut pengalaman masyarakat di barat, lembaga pendidikan formal sistem persekolahan merupakan lembaga utama mengembangkan pengetahuan,melatih kemampuan dan keahlian, dan menanamkan sikap modern para individu yang diperlukan dalam proses pembangunan. Bukti-bukti menunjukkan adanya kaitan yang erat antara pendidikan formal seseorang dan partisifasinya dalm pembangunan. Perkembangan lebih lanjut muncul, tesis human investman, yang menyatakan bahwa investasi dalam diri manusia lebih menguntungkan, memiliki economic rate of return yang lebih tinggi dibandingkan dengan investasi dalam bidang fisik (Zamroni, 2000:3).

Berkenaan dengan peranan pendidikan dalam menciptakan sumber daya manusia berkualitas, guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan yang harus mendapat perhatian sentral, pertama, dan utama. Figur yang satu ini akan senantiasa menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselengarakan secara formal disekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas. Dengan kata lain, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula (Mulyasa, 2009:5).

Guru profesional tidak hanya dituntut untuk menguasai bidang ilmu, bahan ajar, metode pembelajaran, memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakikat manusia dan masyarakat. Hakikat-hakikat ini akan melandasi pola pikir dan budaya kerja guru, serta loyalitasnya terhadap profesi pendidikan.  Demikian halnya dalam pembelajaran, guru harus mampu mengembangkan budaya dan iklim organisasi pembelajaran yang bermakna, kreatif dan dinamis, bergairah, dialogis, sehingga menyenangkan bagi peserta didik maupun guru (Mulyasa, 2009:11).

Pada kenyataannya, orientasi pendidikan kita cenderung memperlakukan peserta didik berstatus sebagai objek atau klien, guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan kedoktrinator, materi bersifat subject oriented, manajemen bersifat sentralistis. Orientasi pendidikan yang kita pergunakan tersebut menyebabkan praktik pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan yang riil yang ada diluar sekolah, kurang relevan antara apa yang diajarkan dengan kebutuhan dalam pekerjaan, terlalu terkonsentrasi pada perkembangan intelektual yang tidak berjalan dengan pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian. Proses belajar mengajar didominasi dengan tuntutan untuk menghafalkan dan menguasai pelajaran sebanyak mungkin guna menghadapi ujian atau test, dimana pada kesempatan tersebut anak didik harus mengeluarkan apa yang telah dihafalkan.
Kemahiran Berbahasa dan Menulis

Wujud dari profesionalitas seorang guru, setidaknya guru dapat membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Anak berkesulitan belajar adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar, maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajarnya rendah dan anak tersebut beresiko tinggal dikelas. Munawir Yusuf, (2003:104) mengungkapkan bahwa kesulitan belajar yang dialami anak dalam belajar bahasa yaitu pada keterampilan menulis. Hal itu disebabkan proses menulis meliputi tiga aspek, yaitu menulis (hardwritting), mengeja dan mengarang.

Dikutip dari berbagai sumber
 

Disqus Comments