SEO TipsPelajari bagaimana SEO bekerja untuk situs Anda!

Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa Melalui Diskusi Panel

Bahwa salah satu Upaya Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa di sekolah sangatlah beragam. Pada bahasan ini saya akan menguraikan salah satu upaya meningkatkan partisipasi belajar siswa dengan diskusi panel

Tujuan Pendidikan

Berdasarkan UU No. 2 Tahun 1985 yang berbunyi bahwa tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsadan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan bangsa.
Berdasarkan MPRS No. 2 Tahun 1960 bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 945.
Tujuan Pendidikan Nasional dalam UUD 1945 (versi Amandemen) 1) Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” 2) Pasal 31, ayat 5 menyebutkan,

“Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Berdasarkan UU. No.20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 3, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan Pendidikan Menurut Unesco Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni:
  • learning to Know,
  • learning to do
  • learning to be, dan
  • learning to live together.
Dimana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ.

Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajarantercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran
Tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Yang menarik untuk digarisbawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).
Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu:
  1. Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri;
  2. Memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar;
  3. Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran;
  4. Memudahkan guru mengadakan penilaian.

Dalam pendekatan masalah khusus dalam pembelajaran atau sering di kenal dengan istilah SME, mendeskripsikan bahwa pendekatan ini akan menciptakan pembelajaran yang spesifik sesuai dengan bidangnya. Pendekatan ini lebih mempertimbangkan apa yang harus dipelajari tentang materi tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa identifikasi tujuan pembelajaran melalui pendekatan masalah khusus dalam pembelajaran, mengandung makna sebagai pengetahuan dan pengertian berdasarkan informasi yang diterima.

Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa
Pendekatan berikutnya yaitu pendekatan penguraian isi pembelajaran. Pendekatan ini lebih menetapkan berdasarkan fakta-fakta dari masalah yang di tampilkan, tapi sebuah asumsi menyatakan bahwa frekuensi akan mempengaruhi masalah seperti siswa yang berada dalam kelas unggul tetapi tidak belajar dengan tipe yang benar atau yidak sesuia dengan isi pembelajaran. Pendekatan ini sering terjadi jika ”tipe yang benar dan sesuai dengan isi pembelajaran” sesuai denga isi standar kurikulum dan bagan kerja, perangkat pembelajaran, pelatihan manual, dan lain sebagainya. Masalah pada pendekatan ini, harus sesuai dengan standar isi dimana tidak banyak yang sesuai atau tidak ada jalan keluar yang cukup mampu untuk organisasi atau kebutuhan sosial.
Tujuan khusus melalui pendekatan tugas akan valid jika melalui perencanaan yang tepat dan melalui latihan dengan petugas yang ahli dalam pelatihan tersebut atau jika pendesain pembelajaran dapat melatih pemahaman dan kecakapan untuk mengkonfirmasi atau mengubah tujuan pembelajaran setelah menemukan fakta. Pendekatan yang keempat yaitu pendekatan pada teknologi penampilan, dimana dalam tujuan pembelajaran disusun dalam menanggapi masalah atau kesempatan dalam sebuah struktur. Tidak ada pertimbangan atas gagasan sebelumnya dari apa yang harus dipelajari dari apa yang akan termasuk dalam tujuan pembelajaran atau dalam kenyataan adanya kebutuhan untuk semua pembelajaran. Pendesain terlibat dalam analisis pelaksanaan dan proses asesmen kebutuhan untuk mengidentifikasi masalah dengan tepat, dimana hal tersebut bukanlah tugas yang mudah.

Latar Belakang Masalah

Salah satu kewajiban Siswa / Siswi dalam mengturuti pembelajaran di dalam kelas adalah turut berpatisipasi dalam setiap proses pembelajaran yang berlangsung di kelas.
Kemampuan seorang Siswa / Siswi dalam berpartisipasi di setiap proses pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran yang berlangsung di kelas dan menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan penuh makna.
Partisipasi di setiap kegiatan pembelajaran di kelas harus merata. Partisipasi di kelas ini harus dilakukan oleh semua Siswa / Siswi/siswi yang duduk di kelas rendah dan tinggi. Partisipasi Siswa / Siswi sangat penting dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas, khususnya yaitu dalam pelajaran ilmu sosial di kelas V dimana materi-materi pelajarannya menuntut Siswa / Siswi untuk selalu berpartisipasi di kelas agar setiap materi pembelajarannya dapat selalu menempel di pikiran Siswa / Siswi.
Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan partisipasi menuntut Siswa / Siswi untuk berperan serta aktif dalam proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas. Kemampuan dalam berpartisipasi harus diterapkan Siswa / Siswi dalam setiap mata pelajaran yang dipelajarinya di kelas. Khususnya dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.
Sebagaimana yang diketahui bahwa belajar Ilmu Pengetahuan Sosial cukup sulit bagi Siswa / Siswi tingkat dasar seperti Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar, khususnya Siswa / Siswi kelas V. Dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa / Siswi mkelas V harus mempunyai kemampuan dalam memahami dan menghafal hal-hal penting dari materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang sedang diajarkan guru di kelas dan Siswa / Siswi pun harus memiliki kemauan untuk mengulang kembali pembelajaran tersebur di rumah.
Tidak hanya itu saja, Siswa / Siswi pun harus mampu berpartisipasi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Apabila Siswa / Siswi kurang berpartisipasi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas maka akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran lebih lanjut.
Dalam kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal dengan sebutan KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan), yang terdapat istilah kompetensi yang berarti kemampuan atau pengetahuan serta keterampilan berpikr dan bertindak.
Kurikulum 2006 sendiri merupakan standar program pendidikan yang bertujuan menghantarkan Siswa / Siswi menjadi kompeten dalam berbagai bidang kehidupan.Standar kompetensi yang harus dimiliki Siswa / Siswi kelas V semester II dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah menghargai peranan toloh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan Kompetensi Dasarnya yaitu:
  1. menghargai jasa dan peranan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan,
  2. menghargai perjuangan para tokoh dalam mempertahankan kemerdekaan.

Berdasarkan pernyataan yang didapat dari wali kelas V Sekolah Dasar Negeri 02 Pondokpanjang, bahwa dari 26 orang Siswa / Siswi kelas V yang belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas terlihat sekitar 76,9% Siswa / Siswi yang tidak berpartisipasi dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas. Ketidakturut sertaannya Siswa / Siswi dalam berpartisipasi pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dapat dilihat dari Siswa / Siswi yang hanya diam saja di kelas mulai dari awal sampai selesainya pembelajaran, ada juga Siswa / Siswi yang selalu berbicara di kelas. Ini dapat dikatakan sebagai Siswa / Siswi yang ribut.

Hal yang menyebabkan Siswa / Siswi ribut dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah Siswa / Siswi kurang berminat dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Kurang berminatnya Siswa / Siswi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial disebabkan oleh model pembelajaran guru yang monoton maksudnya guru hanya menggunakan metode ceramah dalam mengajarkan materi Ilmu Pengetahuan Sosial pada Siswa / Siswi dan keterampilan guru dalam membuat media pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sangat kurang.
Selain itu, banyak Siswa / Siswi yang beranggapan bahwa belajar Ilmu Pengetahuan Sosial mudah karena menurut mereka belajar Ilmu Pengetahuan Sosial cukup hanya mendengarkan penjelasan yang guru berikan.
Pernyataan yang diuraikan di atas, merupakan suatu masalah yang terjadi pada Siswa / Siswi kelas V saat belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas. Selain masalah diatas, ada beberapa masalah yang menyebabkan Siswa / Siswi tidak berpartisipasi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial seperti Siswa / Siswi kurang berkemampuan dalam menghafal materi-materi yang penting pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Siswa / Siswi malas menjawab soal-soal yang berhubungan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial karena membutuhkan jawaban yang panjang dan sumber belajar yang disajikan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kurang menarik perhatian Siswa / Siswi.
Apabila masalah-masalah tersebut terus berlanjut maka menyebabkan tingkat pemahaman Siswa / Siswi terhadap pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial akan rendah.
Permasalahan yang diuraikan di atas, harus dibuat cara untuk mengatasi pembelajaran tersebut. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan tindakan pembelajaran di kelas V. Tindakan yang dilakukan peneliti adalah berupa diskusi panel di mana diskusi panel merupakan suatu metode pembelajaran berkelompok yang di lakukan Siswa / Siswi di dalam kelas untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Selain metode pembelajaran diskusi panel, tindakan yang lain dapat di lakukan peneliti adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran berupa media visual seperti gambar-gambar berwarna yang dibuat peneliti dan media pembelajaran ini diajarkan sesuai pokok bahasan yang akan dijelaskan peneliti pada Siswa / Siswi sebagai upaya untuk peningkatan partisipasi belajar Siswa / Siswi kelas V pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
Melihat permasalahan yang di uraikan di atas, peneliti merasa segera mengambil tindakan dengan menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Beberapa solusi yang di tawarkan yaitu :
  1. menggunakan metode pembelajaran yang lebih beraneka ragam contohnya dengan menggunakan metode pembelajaran diskusi panel,
  2. penggunaan media pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berupa gambar,
  3. melakukan model pendekatan individual pada Siswa / Siswi yang kurang berminat belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

 

Dari beberapa solusi yang di tawarkan di atas, maka solusi yang tepat untuk meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran diskusi panel.
Penggunaan diskusi panel ini dirasa tepat untuk meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dalam Ilmu Pengetahuan Sosial karena kegiatan diskusi panel ini memberi kemungkinan pada Siswa / Siswi untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan dengan berusaha menyatakan pendapatnya secara lisan dengan tujuan untuk memecahkan suatu masalah bersama.
Dengan kemampuan Siswa / Siswi dalam menyatakan pendapat dan pikirannya dalam memecahkan masalah pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial membuat suasana belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas menjadi lebih hidup dan bermakna serta dapat mempertinggi kemampuan berpartisipasi belajar Siswa / Siswi secara individual, meningkatkan pemahaman Siswa / Siswi terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, serta dapat meningkatkan hasil belajar Siswa / Siswi menjadi lebih baik dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
Atas dasar pemikiran di atas, maka peneliti tertarik melakukan Penelitian Tindakan Kelas untuk meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menetapkan judul : Upaya meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi melalui kegiatan diskusi panel pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V SD Negeri 02 Pondokpanjang

Identifikasi Masalah

  1. Minat belajar Siswa / Siswi sangat kurang untuk pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
  2. Banyak Siswa / Siswi yang beranggapan bahwa belajar Ilmu Pengetahuan Sosial adalah mudah
  3. Keaktifan Siswa / Siswi dalam mengerjakan soal-soal Ilmu Pengetahuan Sosial sangat kurang
  4. Keturutsertaan Siswa / Siswi berpartisipasi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial sangat kurang, ditunjukkan dari sebagian Siswa / Siswi yang diam dan Siswa / Siswi lainnya ribut di kelas
  5. Guru menggunakan metode pembelajaran yang monoton dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
  6. Materi dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terlalu luas sehingga Siswa / Siswi kurang berkemampuan dalam menghafal materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
  7. Guru kurang terampil dalam membuat media pembelajaran
  8. Sumber belajar yang disajikan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kurang menarik perhatian Siswa / Siswi

 

Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini yaitu : Upaya meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi melalui kegiatan diskusi panel pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V SD Negeri 02 Pondokpanjang.

Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu: Apakah melalui kegiatan diskusi panel dapat menigkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V SD Negeri 02 Pondokpanjang ?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk menigkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi melalui kegiatan diskusi panel pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Kelas V SD Negeri 02 Pondokpanjang

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian tindakan kelas ini antara lain :
  1. Bagi Siswa / Siswi, dapat di jadikan sebagai bahan acuan untuk meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dengan kegiatan diskusi panel dan dapat meningkatkan semangat belajar Siswa / Siswi dalam Ilmu Pengetahuan Sosial dengan kegiatan diskusi panel
  2. Bagi guru, penelitian ini dapat menjadi alternatife pengajaran dalam meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dan mengatur keberhasilannya dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, serta memperoleh wawasan baru dalam hal penggunaan metode pembelajaran sebagai upaya meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi
  3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi sebagai masukan atau evaluasi guna meningkatkan mutu dan kwalitas pendidikan di sekolah
  4. Bagi saya, dengan membaca ini berarti anda sudah membantu saya dalam meningkatkan traffic blog saya. Terima kasih

 

Kajian Teori

Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang terdapat dalam kurikulum di sekolah. Keterampilan ini erat hubungannya dengan keterampilan berkomunikasi antara sesama manusia yang bertujuan untuk menyatakan pendapat dan pikiransecara lisan sehingga tercipta proses percakapan yang menyambung.
Kemampuan berbicara berlangsung secara teratur mula-mula pada masa balita dan anak-anak. Belajar berbicara didapat dari lingkungan keluarga. Setelah beranjak remaja dan dewasa, kemampuan berbicara menjadi meningkat menuju kearah yang lebih baik karena telah mengalami proses belajar berbicara yang didapat dari lingkungan sekolah dan tempat tinggal.
Kemampuan dalam berbicara merupakan suatu pelajaran pokok yang harus di latih oleh Siswa / Siswi sejak duduk di kelas rendah agar seorang Siswa / Siswi menjadi tanggap dalam menyatakan pikiran dan hal yang ingin ditanggapinya dalam hal belajar mengajar di kelas. apabila seorang Siswa / Siswi telah mahir dalam berbicara maka untuk melanjut ke kelas tinggi akan lebih mudah karena kecakapan Siswa / Siswi dalam berbicara mengenai suatu hal yang berhubungan dengan pelajarannya akan menunjang prestasi Siswa / Siswi menjadi lebih baik.
Siswa / Siswi yang telah duduk di kelas tinggi dituntut untuk mampu berbicara secara lisan dan fasih ketika mengturuti proses pembelajaran di kelas. Tujuannya untuk menciptakan proses belajar mengajar lebih aktif, kreatif dan bermanfaat bagi Siswa / Siswi sehingga pelajaran yang didapatnya di kelas dapat dipahami dan diaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari
Salah satu bentuk kemampuan berbicara yang mampu menciptakan suasana belajar mengajar jadi menyenangkan dan bermakna adalah dengan kegiatan berpartisipasi dalam proses belajar mengajar di kelas. Karena dengan keaktifannya Siswa / Siswi berperan serta untuk berpartisipasi akan meningkatkan tingkat pemahaman Siswa / Siswi terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya di kelas.
Slamet ( 1993:60) menyatakan “partisipasi merupakan suatu bentuk keterlibatan dan keturutsertaan secara aktif dan sukarela dalam suatu kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan bersama”.
Keturutsertaan aktif Siswa / Siswi dalam belajar ini bukan hanya di dalam kelas saja tetapi juga di luar kelas, Siswa / Siswi harus berpartisipasi aktif mengturuti pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial baik yang dilaksanakaan guru di dalam dan di luar kelas.
Contoh kegiatan pembelajaran di luar kelas adalah dengan membuat hasil kerja bagi Siswa / Siswi seperti menggambar dan membuat kerajinan. Berpartisipasi tidak hanya dalam pengertian keturut sertaan saja tetapi berpartisipasi dalam belajar di kelas adalah mampu megturuti setiap proses pembelajaran seperti bertanya jawab pembelajaran di dalam kelas, mendengarkan penjelasan guru, memperhatikan guru mengajar, mencatat hasil pembelajaran, menyelesaikan soal-soal latihan dengan benar dan berinteraksi positif di dalam kelas dengan menciptakan suasana nyaman dan ramah antar guru dan Siswa / Siswi.
diskusi panel
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, belajar berarti berusaha, berlatih, dan sebagainya supaya mendapat kepandaian.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, parisipasi belajar berarti keturutsertaan secara aktif dan sukarela dalam mengturuti kegiatan pembelajaran supaya mendapat kepandaian. Siswa / Siswi yang berpartisipasi dalam belajar akan mudah menangkap dan memahami isi dari materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru sehingga dapat memacu prestasi belajar Siswa / Siswi menjadi lebih baik.
Dalam buku Psikologi Pendidikan (dalam tim dosen, 2009:106), diskusi berarti pertimbangan pertukaran pikiran, pembicaraan atau masalah. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Canei (dalam tim dosen, 2008:97) menyatakan bahwa panel berarti “suatu kelompok kecil (antara 3-6 orang) peserta diskusi dimana para peserta berinteraksi tatap muka untuk menyampaikan pendapat mereka melalui bimbingan dari seorang moderator atau ketua.
Menurut Rosmala Dewi dalam PTK, panel suatu kelompok kecil antara 3-6 orang mendiskusikan suatu subyek tetentu, mereka duduk dalam susunan semi melingkar dihadapkan pada suatu kelompok besar peserta lainnya. Anggota kelompok lain ini dapat diundang untuk turut berpartisipasi, yang duduk sebagai panelis adalah orang yang ahli dalam bidangnya.
Dari pernyataan yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa diskusi panel merupakan pembicaraan atau pertimbangan tentang suatu topik atau permasalahan yang menjadi perhatian bersama antara 3-6 orang peserta diskusi dimana para peserta berinteraksi tatap muka untuk menyampaikan pendapatnya melalui bimbingan dari seorang moderator.
Landasan teoritis pembelajaran diskusi panel berasal dari teori kognitif Piaget dan teori belajar social Vygotsky. Dimana teori kedua tokoh ini menyatakan bahwa system diskui merupakan sentral untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif. Khususnya pada diskusi panel membantu dalam menetapkan pola partisipasi dan secara konsekuen memiliki dampak besar terhadap manajemen kelas.
Ada beberapa pendekatan diskusi panel yang dikemukakan oleh Tjokrodihardjo (2003). . Pendekatan tersebut terdiri dari:
  1. pertukaran resitasi adalah guru meminta Siswa / Siswi mendengarkan informasi atau topik tertentu,
  2. diskusi berdasarkan masalah adalah guru mendorong Siswa / Siswi mengajukan pertanyaan,
  3. diskusi berdasarkan saling berbagi pendapat adalah membantu Siswa / Siswi mengekspresikan pikiran dan pendapat secara bebas.

 

Diskusi Panel memiliki keunggulan dan kelemahan dalam teknik pelaksanaannya, (Suryosubroto, 1997:185-186 Trianto).
Keunggulan diskusi panel yaitu:
  1. pendengar dapat mengturuti perkembangan berpikir panelis,
  2. mengemukakan pandangan yang berbeda-beda,
  3. mendapat hasil kesimpulannya,
  4. Mendorong analisa kemungkinan,
  5. dapat merangsang pemikiran massal secara singkat.

 

Kelemahan diskusi panel yaitu:
  1. mudah tersesat,
  2. memungkinkan panelis berbicara terlalu banyak,
  3. tidak memungkinkan semua peserta ambil bagian,
  4. memerlukan moderator yang terampil,
  5. membutuhkan waktu dan persiapan yang cukup.

 

Diskusi Panel termasuk metode pembelajaran. Istilah metode secara harafiah “cara”. Makna umumnya diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Istilah metode sangat popular dalam pendidikan karena proses belajar mengajar merupakan bagian dari pendidikan yang berlangsung di sekolah dimana sebagai tenaga pendidik, seorang guru harus mampu menggunakan metode mengajar yang beraneka ragam agar proses pembelajaran menjadi efektif dan bermakna.
Metode mengajar yang digunakan dalam proses pembelajaran disebut metode pembelajaran.Dalam buku Strategi Belajar Mengajar (dalam tim dosen, 2008:85-86) diuraikan beberapa manfaat dari metode pembelajaran yaitu:
  1. metode sebagai alat motivasi ekstrinsik maksudnya adalah metode menempati peranan penting sebagai alat memotivasi guru mengajar sehingga muncul metode pembelajaran yang beragam
  2. metode sebagai alat Strategi Belajar Mengajar maksudnya guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien mengena pada tujuan yang diharapkan,
  3. metode sebagai alat untuk mencapai tujuan dimana tujuan dari kegiatan Belajar Mengajar adalah komponen metode yang akurat antara metode dan tujuan harus berjalan selaras

Demikian halnya dengan metode pembelajaran diskusi panel yang dibahas dalam penelitian ini. Peneliti berharap diskusi panel menjadi metode mengajar yang mampu mencapai tujuan pembelajaran yaitu meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi kelas V pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Temuan Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian terdahulu menghasilkan :
  1. Endang Tuti, 2017, dalam penelitiannya membahas faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi warga belajar dalam mengturuti program paket B di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Teladan Pondokpanjang.
  2. Menurut pendapat Burton bahwa faktor partisipasi belajar yaitu faktor biologis, faktor psikologis, social ekonomi keluarga, tempat tinggal, suasana belajar, prestasi belajar dan motiVsi,
  3. Nunuy, 2017, dalam penelitiannya membahas mengenai hubungan motivasi dan partipasi belajar terhadap prestasi belajar warga belajar paket B di Sanggar Kegiatan Belajar Kota Cihara menurut pendapat Islahuddin mengemukakan bahwa partisipasi belajar yaitu dilihat dari kuantitatif seperti minat belajar Siswa / Siswi dan secara kualitatif seperti kebutuhan belajar Siswa / Siswi.

Kerangka Konseptual

John Dewey (dalam tim dosen, 2009:99) menyatakan bahwa “Siswa / Siswi belajar untuk merumuskan dan memecahkan masalah (memberi respon/tanggapan terhadap rangsangan yang menggambarkan situasi problematik) dengan menggunakan peraturan yang dikuasainya”. Menurutnya, Siswa / Siswi yang mencapai tingkatan belajar di sekolah, harus mampu dalam mengidentifikasi permasalahannya yang dihadapinya.
Di mana permasalahannya itu akan dicari solusi mengatasinya. Untuk memudahkan Siswa / Siswi memecahkan masalah tersebut dibentuk kelompok diskusi kelas dengan menerapkan pembelajaran diskusi panel yang berguna sebagai alat memotivasi dan meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi saat pembelajaran khususnya pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Metode pembelajaran yang dimaksud ialah diskusi panel.
Dengan metode pembelajaran diskusi panel diharapkan dapat menghilangkan kebosanan dan kejenuhan Siswa / Siswi belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V karena dengan belajar saling berkelompok ini, suasana belajar akan lebih menarik dan hidup sehingga motivasi dan partisipasi Siswa / Siswi terpacu untuk memecahkan masalah pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V sehingga tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial akan tercapai dengan maksimal.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *